Guru di mata Guru PPL

Tulisan yang berisi tentang pengalaman saya selama menjadi guru PPL (Program Pengalaman Lapangan) ini, saya tulis di tengah-tengah waktu PPL yang berdurasi 3 bulan. Tepatnya saya tulis tanggal 25 September, 2014. Saya melaksanakan PPL di salah satu SMA Negeri di kota Pekalongan. Bagi kalian yang mungkin akan menjalani PPL atau bercita-cita menjadi guru (masuk jurusan pendidikan), mungkin pengalaman saya ini akan memberi sedikit gambaran. Bila kalian sudah menjadi guru yang sebenarnya, tanggung jawab kalian tentu akan lebih besar (daripada yang saya tulis disini) karena kalian tidak hanya bergelut dengan soal, siswa, dan kelas, tapi juga akan terlibat dalam kegiatan sekolah, organisasi siswa, administrasi sekolah, dan sebagainya.
Selamat membaca ^__^



Setelah 2 bulan ini melaksanakan PPL, saya menyadari sesuatu: menjadi guru itu tidak mudah. Sebelum guru mengajar sudah harus memikirkan tentang materi yang akan disampaikan, media pembelajaran yang akan digunakan, metode pembelajaran yang akan diterapkan, hingga soal-soal yang akan diberikan. Sebagai mahasiswa semester 7 yg harus mengajar siswa kelas X, saya harus belajar dulu sebelum mengajar. Ya, harus belajar. Karena materi yang saya ajarkan sudah lama sekali saya pelajari hingga ada beberapa hal yg terlupakan. Belajar pun harus dari banyak buku. Kadang saya temui materi yg sulit untuk saya pahami sendiri, hal yg seperti itu merupakan tantangan besar untuk saya. 
Menjelaskan materi yg memerlukan pemahaman lebih kepada 35 orang siswa sekaligus tidaklah mudah. Setiap siswa mempunyai daya tangkap yang berbeda. Namun, disitulah saya belajar lebih sabar. Kebahagiaan akan sangat terasa bila jumlah siswa yang bertanya semakin sedikit karena itu menandakan jumlah siswa yang memahami materi bertambah setelah dijelaskan ulang. Bahagia ketika siswa bisa mengerjakan soal di papan tulis. Bahagia ketika siswa serempak menjawab pertanyaan dengan benar. Bila tiba waktunya evaluasi, guru harus membuat soal dan kunci jawabannya, memikirkan skor penilaiannya, dan biasanya juga menyiapkan lebih dari 1 tipe soal. Selesai ulangan, guru harus menyediakan waktu ekstra untuk membaca jawaban siswa dan mengoreksinya. Padahal tipe tulisan siswa sangat bervariasi. Bila menemui jawaban yang kurang sesuai kunci jawaban, guru harus berpikir akan memberi skor berapa. Selesai mengoreksi, guru harus menghitung nilai siswa dan merekap nilainya. Bila ada yang remidi, guru harus menyiapkan soal lagi tentunya dengan kunci jawabannya pula. Tidak mudah bukan? Dulu ketika saya menjadi siswa, saya pikir jadi guru itu enak. kerjanya hanya mengajar, memberi tugas, dan mengomentari. Ternyata tidak. Maka hargailah guru kalian. Percayalah mereka pun berusaha keras menghafal namamu.
Oh ya, yang paling penting tanggung jawab guru sangat besar, karena sekali konsep yg dijelaskan melenceng, konsep yang salah itu akan terus menjadi konsep abadi yang ada pada siswa. Sungguh menakutkan bukan?
#ulycious


Penulis bernama Hanifa Uly Amrina. Alumnus Pendidikan Kimia Unnes Tahun 2015.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kalo main lu udah jauh, harusnya lu bisa ngomong yg bener

Pernah denger atau baca tulisan "kalo jadi orang gampang tersinggung, berarti main lu kurang jauh" ? Kurang lebih seperti itu.. pada awalnya setuju bgt sih sama kalimat itu, soalnya pengalaman ada temen yg dikit2 bete krn gabisa diajak bercanda.. tapi lama2 malah kayanya kalimat itu salah deh..
Pernah suatu hari aku dibercandain  sesuatu yg ga lucu (menurut aku), trus aku kasih tau ke orang yg bercanda kalo candaannya ga lucu, dan dia malah bilang "kamu yg selera humornya jelek". Disitu aku ngrasa jengkel. Emang dia siapa ngejudge selera humor aku. Hellaaw ga semua orang bisa menerima sikap dan ucapan kita kan? Bisa aja maksud kita bercanda dan ga sadar kalo trnyata candaannya udah kelewatan yg akhirnya bikin seseorang marah. Atau misal mksd kita cuma ngasih saran yg baik tp krn mungkin penyampaiannya ga pas malah bikin orang salah paham. Mesti sering bgt dong ya ngalamin yg kaya gitu? Dan pada akhirnya kita harus minta maaf dgn kalimat "maksud aku ga gitu, sebenernya..."
Tp kadang orang yg udah terlanjur marah ya jd agak susah mau nerima omongan kita kan ya? Maka dari itu kalimat yg bener harusnya gini "kalo main lu udah jauh, harusnya lu bisa ngomong yg bener". Logikanya kalo kita udah melanglang buana, main kemana2, ketemu banyak orang, disitu kita belajar bahwa karakter orang beda2. Jd kita harus bisa menyesuaikan diri, gabisa maksain orang nerima yg kita ucap atau perbuat. Dan dlm setiap keadaan, yg paling aman adalah LEBIH BAIK DIAM JIKA TIDAK BISA BERKATA YANG BAIK.

#ulycious

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS